Pengumuman Terbaru 23 Jun 2014 Pemberitahuan Dapodikdas Terkait Dana BOS

Artikel

Kenali Ciri Ini, Mungkin Ponsel Anda Disadap

  Bagaimana penyadapan terhadap ponsel dilakukan? Apa saja tanda-tandanya jika ponsel Anda disadap? Kini penyadapan tak hanya menimpa pejabat publik, namun siapa saja untuk kepentingan pihak tertentu.   Ada dua jenis penyadapan ponsel yang biasa dilakukan. Pertama, menggunakan alat sadap berdasar frekuensi telepon. Alat ini berharga Rp 1 – 4 Miliar. Alat bernama ATIS Gueher Gmbh buatan Jerman tersebut di antaranya dimiliki lembaga antikorupsi. Kedua, penyadapan melalui software penyadap handphone.   Namun demikian, secanggih apapun sebuah alat pasti memliki sisi kelemahannya. Apa saja ciri ciri bila ponsel Anda sedang disadap menggunakan alat?    Ada suara berdengung panjang, suara lawan bicara seperti berada di lorong yang bergema.  Bila Anda menelepon ke nomor-nomor tertentu akan putus setiap beberapa menit, padahal tidak sedang di luar kota. Terdapat delay waktu penyampaian SMS, bahkan cukup banyak SMS tak sampai. Namun kedua soal ini bisa juga diakibatkan karena buruknya layanan operator. Sulit sekali menelepon ke nomor-nomor tertentu. Bahkan saat si empunya nomor ada di samping kita secara fisik sehingga bisa dilihat handphonenya baik-baik saja (on, sinyal penuh, dan tidak dipakai). Ada suara aneh semacam “cklik” atau “nut” sesaat sebelum nada sambung (atau NSP) berbunyi. Sering ada suara lain semacam induksi ala PSTN saat menelepon dari HP ke sesama nomor HP. Pertanyaannya, apakah induksi bisa terjadi pada telepon seluler yang nirkabel? Yang paling aneh, saat saya menelepon dengan memencet angka satu per satu (bukan dial dari phone book memory) kepada nomor tertentu, malah tersambung ke nomor yang lain. Saya memencet nomor Indosat, nyambungnya ke Telkom. Jauh banget. Sementara itu ciri-ciri ponsel disadap dengan menggunakan software penyadap adalah: Bila baterai ponsel Anda menjadi lebih cepat terkuras padahal jarang digunakan, Anda harus curiga. Sebab, sebuah software mata-mata (spyware) yang sudah tertanam di ponsel, biasanya akan mengirimkan informasi-informasi kepada si penyadap. Hal ini menyebabkan baterai ponsel akan lebih cepat terkuras. Walaupun Anda tak menggunakan ponsel tersebut, bila disentuh, ponsel ini terasa hangat bahkan panas karena walaupun terlihat tak digunakan, ponsel ini sebenarnya bekerja, kemungkinan karena proses penyadapan itu sendiri. Saat digunakan untuk menelepon orang lain, Anda mendengar bermacam bunyi-bunyian, misalnya bunyi klik, derau, atau bunyi lainnya. Bahkan, kemungkinan volume ponsel juga bisa berubah-ubah sendiri. Bila terdengar bunyi yang tak wajar dari ponsel saat sedang tak digunakan, kemungkinan ponsel Anda sedang bekerja, berfungsi sebagai receiver atau transmitter yang sedang menerima percakapan telepon di area sekitarnya. Saat ponsel digunakan berkomunikasi, biasanya ponsel tiba-tiba mati, sinyal tiba-tiba turun atau suaranya mendengung. Lakukan tes. Beritahu kepada orang yang Anda percaya bisa memegang rahasia, tentang informasi tertentu. Bila kemudian orang lain mengetahui informasi Anda itu, tandanya, ponsel Anda sudah disadap orang.   Sumber: salam-online.com

Tanggal : 03 Nov 2013 :: Selengkapnya


Jadilah guru profesional atau tidak sama sekali

Sepuluh ciri guru profesional :  1. Selalu punya energi untuk siswanya Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama. 2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas. 3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa  mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas. 4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif,  membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas. 5. Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi  panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter. 6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka. 7. Pengetahuan tentang Kurikulum Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga  memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu. 8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif. 9. Selalu memberikan yang terbaik  untuk Anak-anak dan proses Pengajaran Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan  mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa. 10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.   Disarikan dari situs Apple for the teacher

Tanggal : 26 Jul 2013 :: Selengkapnya


Pendekatan dan Metode Pembelajaran dalam Kurikulum 2013

Dalam draft Pengembangan Kurikulum 20013 diisyaratkan bahwa proses pembelajaran yang dikehendaki adalah pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal melalui observasi (menyimak, melihat, membaca, mendengar), asosiasi, bertanya, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Disebutkan pula, bahwa proses pembelajaran yang dikehendaki adalah proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered active learning) dengan sifat pembelajaran yang kontekstual. (Sumber: Pengembangan Kurikulum 20013, Bahan Uji Publik, Kemendikbud). Apakah ini sesuatu yang baru dalam pendidikan kita? Saya meyakini, secara konseptual proses pembelajaran yang ditawarkan dalam Kurikulum 2013 ini bukanlah hal baru. Jika kita cermati  kurikulum 2004 (KBK) dan Kurikulum 2006 (KTSP), pada dasarnya menghendaki proses pembelajaran yang sama seperti  apa yang tersurat dalam Kurikulum 2013 di atas. Pada periode KBK dan KTSP, kita telah diperkenalkan atau bahkan kebanjiran dengan aneka konsep pembelajaran mutakhir, sebut saja: Pembelajaran Konstruktivisme, PAKEM, Pembelajaran Kontekstual, Quantum Learning,  Pembelajaran Aktif, Pembelajaran Berdasarkan Masalah, Pembelajaran Inkuiri, Pembelajaran Kooperatif dengan aneka tipenya, dan sebagainya. Jika dipersandingkan dengan Kurikulum 2013, konsep-konsep pembelajaran tersebut pada intinya tidak jauh berbeda. Permasalahan muncul ketika ditanya, seberapa jauh konsep-konsep pembelajaran mutakhir tersebut telah terimplementasikan di lapangan? Berikut ini sedikit cerita saya tentang contoh kasus implementasi pembelajaran mutakhir selama periode KBK dan KTSP, yang tentunya tidak bisa digeneralisasikan. Dalam berbagai kesempatan saya sering berdiskusi dengan beberapa teman guru, dengan mengajukan pertanyaan kira-kira seperti ini: “Anggap saja dalam  satu semester terjadi 16 kali pertemuan tatap muka, berapa kali Anda melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan konsep pembelajaran mutakhir?” Jawabannya beragam, tetapi sebagian besar tampaknya cenderung menjawab bahwa pendekatan yang sering digunakan adalah pendekatan pembelajaran konvensional dengan kekuatan intinya pada penggunaan metode ceramah (Chalk and Talk Approach). Berkaitan dengan permasalahan implementasi pendekatan dan metode pembelajaran mutakhir dalam KBK dan KTSP, setidaknya saya melihat ada 2 (dua) sisi permasalahan yang  berbeda, tetapi tidak bisa dipisahkan: 1.  Masalah keterbatasan keterampilan (kemampuan). Untuk masalah yang pertama ini dapat dibagi ke dalam dua kategori: (a) kategori berat, yaitu mereka yang menunjukkan ketidakberdayaan. Jangankan untuk mempraktikan jenis-jenis pembelajaran mutakhir, mengenal judulnya pun tidak. Yang ada dibenaknya, ketika mengajar  dia berdiri di depan kelas – atau bahkan hanya duduk di kursi guru- sambil berbicara menyampaikan materi pelajaran mulai dari awal sampai akhir pelajaran, sekali-kali diselingi dengan tanya jawab. Itulah yang dilakukannya secara terus menerus sepanjang tahun;  dan (b) kategori sedang. Relatif lebih baik dari yang pertama, mereka sudah mengetahui jenis-jenis pembelajaran mutakhir tetapi mereka masih mengalami kebingungan dan kesulitan untuk menerapkannya di kelas, mereka bisa mempraktikan satu atau dua metode pembelajaran mutakhir tetapi dengan berbagai kekurangan di sana-sini. 2. Masalah keterbatasan motivasi (kemauan). Untuk masalah yang kedua ini, pada umumnya dari sisi kemampuan tidak ada keraguan. Mereka sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang pembelajaran mutakhir yang lumayan, tetapi sayangnya mereka kerap dihinggapi penyakit keengganan untuk mempraktikannya. Mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari berbagai pelatihan dan workshop yang diikutinya. Sepulangnya dari kegiatan pelatihan, semangat mereka berkobar-kobar, nge-full bak batere HP yang baru di-charge, tetapi lambat laun semangatnya memudar dan akhirnya padam, kembali menggunakan cara-cara lama. Hasil pelatihan pun akhirnya menjadi sia-sia. Kembali kepada persoalan Pendekatan dan  Metode Pembelajaran dalam Kurikulum 2013. Pemerintah saat ini telah menyiapkan strategi pelatihan bagi guru-guru untuk kepentingan implementasi Kurikulum 2013 [lihat: Keberhasilan Kurikulum 2013]. Hampir bisa dipastikan, salah satu materi yang diberikan dalam pelatihan ini yaitu berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengembangkan pendekatan dan  metode pembelajaran yang sejalan dengan Kurikulum 2013. Pelatihan untuk penguatan keterampilan guru tentang teknis pembelajaran memang penting. Kendati demikian saya berharap dalam rangka implementasi Kurikulum 2013 ini, tidak hanya bertumpu pada sisi keterampilan saja, tetapi seyogyanya dapat menyentuh pula aspek motivasional. Dalam arti, perlu ada upaya-upaya tertentu untuk membangun kemauan dan komitmen guru agar dapat menerapkan secara konsisten berbagai pendekatan dan metode pembelajaran yang sejalan dengan tuntutan Kurikulum 2013. Bagi saya, upaya menanamkan dan melanggengkan motivasi dan komitmen ini tidak kalah penting atau bahkan mungkin lebih penting dari sekedar menanamkan kemampuan. Jika ke depannya kita bisa secara konsisten menerapkan berbagai pendekatan dan metode pembelajaran yang sejalan dengan Kurikulum 2013, niscaya kehadiran Kurikulum 2013 akan lebih dirasakan manfaatnya. Dan tampak disini pula letak perbedaan yang sesungguhnya antara Kurikulum 2013 dengan Kurikulum sebelumnya.  Tetapi jika tidak, lantas apa bedanya antara Kurikulum 2013 dengan Kurikulum sebelumnya?   Sumber : berbagai sumber

Tanggal : 26 Jul 2013 :: Selengkapnya


Kurikulum Baru

oleh Sukemi Staf Khusus Mendikbud Bidang Komunikasi Media Suasana baru pada tahun pelajaran baru 2013 yang serentak dimulai, Senin, 15 Juli ini, menjadi momentum menarik dan perlu dicatat dalam lembar sejarah pendidikan. Betapa tidak, para peserta didik di jenjang SD, SMP, SMA dan SMK, sedikitnya di 6.325 sekolah pada 295 kabupaten/kota di 33 provinsi, ditambah sekitar 1.488 sekolah mandiri, akan memulai pengimplementasian Kurikulum 2013. Saya sedang membayangkan di sekolah-sekolah itu --terutama di kelas 1, 4, 7 dan 10-- bukan hanya ditemukan baju seragam dan sepatu baru, tapi juga suasana berbeda, yakni gairah baru akan diterapkannya Kurikulum 2013. Memang muncul keraguan, apakah kurikulum baru itu benar-benar bisa diterapkan, sementara proses pelatihan guru di sekolah-sekolah sasaran baru berakhir dua hari lalu? Kurikulum 2013 berbeda dengan kurikulum sebelumnya, karena itu wajar jika muncul keraguan. Tulisan berikut ingin mengukuhkan kembali, bahwa Kurikulum 2013 dengan segala kekurangan dan kelebihannya, adalah momentum yang layak untuk dicatat dalam lembar sejarah pendidikan di negeri ini. Guru Jadi Taruhan Semua paham, kurikulum dapat dimaknai sebagai kumpulan teks yang berisi keinginan, cita-cita, dan harapan terhadap materi dari proses pembelajaran, untuk mencapai hasil yang diinginkan (kompetensi). Di dalam kurikulum itu terdapat sedikitnya empat komponen utama (i) standar kompetensi lulsuan yang diharapkan; (ii) standar isi materi yang akan diajarkan; (iii) standar proses pembelajaran (metodologi); dan standar proses penilaian. Dari empat komponen itu, maka guru menjadi taruhan terhadap keberhasilan implementasi kurikulum. Disinilah pentingnya pembekalan dan pelatihan bagi guru. Melihat perjalanan pada kegiatan pelatihan instruktur nasional, guru inti, dan guru sasaran, kita boleh berharap banyak guru mampu mengimplementasikannya dengan baik. Hasil evaluasi terhadap pelaksanaan pelatihan instruktur nasional misalnya, nilai rerata yang dicapai dari pres test ke post test mengalami kenaikan cukup signifikan 20,60%. Kenaikan tertinggi ada pada materi rasionalitas kurikulum (44,64%), lainnya, materi analisis materi ajar (11,05%), dan materi rancangan pembelajaran dan praktik (9,53%). Optimisme ini perlu ditanamkan dan dijadikan virus, sehingga stigma negatif yang berkembang selama ini terhadap guru, bisa diperbaiki. Memang pada dasarnya guru kita bisa, mau, dan mampu untuk diajak berubah ke arah lebih baik. Sejatinya, didalam lubuk hati terdalam, tidak ada guru yang tidak ingin peserta didiknya menjadi generasi lebih unggul dan lebih baik. Adigium lama mengatakan, guru yang sukses adalah guru yang bisa dikalahkan oleh muridnya. Dari hasil tiga pelatihan berjenjang itu pulalah, ke depan, posisi guru yang jadi taruhan kesuksesan terhadap implementasi Kurikulum 2013 harus disiapkan sistem pelatihan yang lebih baik dan komperhensif. Termasuk didalamnya melakukan reorientasi terhadap lembaga penyiapan pengadaan guru, yaitu Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK). Ini penting, karena Kurikulum 2013 telah disiapkan sedemikian rupa untuk mengantisipasi perubahan-perubahan terhadap kemungkinan yang terjadi berkaitan dengan perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Jenlink (1995) mengungkapkan, bahwa masa depan akan berbeda secara dramatis dari masa sekarang, dan itu sudah menuntut kita mempersiapkan untuk perubahan penting yang sedang terjadi pada kehidupan kita dengan kekuatan perubahan yang akan memerlukan kita mengalihkan pola pikir kita sekarang tentang dunia yang kita ketahui. Pendidikan dan dalam hal ini kurikulum sebagai the heart of education (Klein, 1992) harus mempersiapkan generasi bangsa yang mampu hidup dan berperan aktif dalam kehidupan lokal, nasional, dan lokal yang mengalami perubahan dengan cepat tersebut. Sebagaimana diungkapkan oleh Oliva (1982), kurikulum perlu memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan politik. Disinilah sesungguhnya desain Kurikulum 2013. Momentum Perubahan Merujuk Kurikulum 2013, sedikitnya ada tiga hal yang dapat dijadikan momentum perubahan sebagai efek domino dari implementasi Kurikulum 2013. Pertama, berkait dengan upaya pengendalian terhadap buku pelajaran. Buku pegangan guru dan siswa pada Kurikulum 2013 disiapkan oleh Pemerintah. Ini artinya, kualitas isi bisa dipertanggungjawabkan. Dalam hal harga, jika memang peserta didik harus membeli, karena sekolah memilih untuk mengimplementasikannya secara mandiri, harga buka sudah bisa ditekan lebih wajar. Dalam hal buku, ada yang menyatakan, Kurikulum 2013 telah mematikan peran penerbit dan percetakan. Tentu pernyataan itu tidak 100 persen benar, karena yang disiapkan Pemerintah hanyalah buku wajib siswa dan guru. Buku pengayaan masih bisa diterbitkan oleh penerbit. Sedang pengadaan pencetakan buku yang disiapkan Pemerintah diserahkan sepenuhnya kepada percetakan melalui sistem lelang terbuka. Momentum kedua, Kurikulum 2013 dapat memperkuat budaya sekolah melalui pengintegrasian kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstra kurikuler, serta penguatan peran guru bimbingan dan konseling (BK). Selama ini, kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstra kurikuler, berjalan terpisah, padahal semestinya tiga ranah pendidikan itu utuh dalam satu kesatuan. Ketiga, masih terkait dengan hal kedua, memperkuat integrasi pengetahuan-bahasa-budaya dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pilihan ekstra kurikuler Pramuka dan pengarusutamaan pelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013, termasuk didalamnya pendidikan agama dan budi pekereti, adalah bagian tidak terpisahkan dalam kerangka pemahaman utuh terhadap NKRI, sebagai sebuah keniscayaan. Inilah hal-hal yang perlu dicatat dalam menandai datangnya tahun pelajaran baru dan implementasi kurikulum baru. Harapannya, memasuki tahun pelajaran dengan kurikulum baru, bersamaan dengan pelaksanaan Puasa Ramadhan 1434 H, dapat menjadi semangat bagi guru dan peserta didik, menjadi generasi yang lebih baik.   Sumber : Kemdikbud

Tanggal : 26 Jul 2013 :: Selengkapnya


RPP SESUAI STANDAR PROSES versus RPP MENYESATKAN GURU

Oleh: Drs. SUYITNO, M.Pd *) Pengawas TK/SD di Kabupaten Probolinggo Judul tulisan di atas sebenarnya tidaklah berlebihan. Fakta! Sebagai bahan perbandingan, berikut nanti akan dilampiran salah satu contoh RPP yang beredar luas di kalangan guru, khususnya di sekolah dasar. Berdasarkan pengamatan langsung, penulis menemukan beberapa temuan tersebut di beberapa sekolah kab/kota di Indonesia, yaitu pada saat penulis berkunjung ke beberapa sekolah pada saat memberikan pelatihan pembelajaran, kurikulum, maupun manajemen sekolah. Hal ini sebenarnya tidaklah berlebihan, karena sebagian guru-guru mengambil jalan pintas, khususnya pada saat ada supervisi kelengkapan administrasi pembelajaran oleh kepala sekolah maupun pengawas sekolah. Sedikit sekali jumlah guru-guru yang benar-benar membuat RPP sendiri dan sesuai realitas yang diajarkannya Selengkapnya Dapat Di Unduh DISINI

Tanggal : 12 Apr 2013 :: Selengkapnya


IMPLEMENTASI MENEJEMEN PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

Oleh : Sumadji.S.Pd.,M.PdPengawas TK/SD Kecamatan Kraksaan Kab.ProbolinggoAbstrakPada kehidupan  sehari- hari, tentunya  kita  kenal istilah  menejemen pembelajaran. Apalagi pada  kehidupan  para pelaksanaan  pendidikan. Kalimat  itu  telah  terpatri   pada  ingatan  para  pelaku  pendidikan. Karena  mereka  berperan dan  melaksanakan  tugas  pada  pembelajaran.Istilah manajemen memiliki banyak arti, tergantung pada orang yang mengartikannya. Istilah manajemen sekolah acapkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. Berkaitan dengan itu, terdapat tiga pandangan berbeda; pertama, mengartikan lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi); kedua, melihat manajemen lebih luas dari pada administrasi dan ketiga, pandagan yang menggangap bahwa manajemen identik dengan administrasi. Berdasarkan fungsi pokoknya istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama. Karena itu, perbedaan kedua istilah tersebut tidak konsisten dan tidak signifikan.

Tanggal : 08 Apr 2013 :: Selengkapnya


REVITALISASI KKG UPAYA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

  Oleh : Sumadji, M.Pd Penulis Pengawas TK/SD Kecamatan Kraksaan   Peningkatan  pendidikan  tidak  terlepas   dari keberadaan    Kelompok  Kerja  Guru ( KKG). Karena    keberadaannya KKG  dapat  meningkatkan  kinerja   guru  untuk  memperbaiki   pembelajaran  yang kurang   efektif. Kelompok  Kerja  Guru  ini   merupakan   wadah  atau  tempat    bagi  guru   untuk   bermusyawararah  tentang  hal- hal  untuk  meningkatkan  mutu  dalam  pembelajaran. Keberadaan  KKG mempunyai  peranan  yang  sangat  penting  untuk  meningkatkan  proses  pembelajaran  bagi  lembaga. Oleh  karena  itu  pengelolaan KKG  perlu  ditingkatkan    dan   mempunyai  perencanaan,  dan pelaksanaan  dalam  meningkatkan   kinerja  guru  secara profesional

Tanggal : 05 Apr 2013 :: Selengkapnya


MENERAPKAN PRINSIP DAN CIRI KERJA OTAK MELALUI PENDEKATAN BELAJAR AKTIF

Penulis   : Drs. SUYITNO, M.Pd Pengawas TK/SD Kecamatan Lumbang Judul Artikel : MENERAPKAN PRINSIP DAN CIRI KERJA OTAK MELALUI PENDEKATAN BELAJAR AKTIF   Bagaimana kira-kira kondisi pendidikan saat ini khususnya di wilayah Kabupaten Probolinggo, dalam hal ini apakah sistem implementasi kurikulum dan penilaiannya cenderung mengorbankan para siswa? Sebelum mengupas masalah tadi, marilah kita simak ilustrasi berikut ini Artikel Selengkapnya Dapat Di Unduh Disini  

Tanggal : 28 Mar 2013 :: Selengkapnya


KIAT-KIAT MEMIMPIN DAN MEMANAGE SEKOLAH

Penulis   : Drs. SUYITNO, M.Pd Pengawas TK/SD Lumbang Judul Artikel : KIAT-KIAT MEMIMPIN DAN MEMANAGE SEKOLAH   Mutu pendidikan di Indonesia telah lama menjadi keprihatinan kita bersama, bahkan saat ini menjadi isu santer yang berkembang di tengah-tengah masyarakat kita yang sedang menuntut adanya perubahan terhadap layanan pendidikan. Sejak Indonesia diterjang krisis ekonomi yang berkepanjangan, hal ini sangat mempengaruhi mutu lulusan, khususnya di tingkat SD/MI. Hal ini dapat dilihat dari angka kelulusan kohort di tingkat SD/MI. Berdasarkan hasil studi kasus terbatas yang dilaksanakan oleh Pusat Penelitian Balitbang Depdiknas dan Unicef tahun 1998 di lima provinsi, disebutkan bahwa ternyata kelulusan kohort SD/MI dalam 6 tahun hanya mencapai 49%. Dalam waktu 7 tahun meningkat menjadi 65%. Untuk 8 tahun naik sampai angka 70%. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya anak-anak tidak belajar dengan benar. Bagaimana dan apa yang terjadi sampai dengan tahun 2013 ini? Angka tersebut tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Siapakah yang menjadi kambing hitamnya? Artikel Selengkapnya Dapat Di Unduh Disini  

Tanggal : 28 Mar 2013 :: Selengkapnya


Kepala Sekolah Jabatan atau Aspirasi Masyarakat

Penulis   : Drs. SUYITNO, M.Pd Pengawas TK/SD Lumbang Judul Artikel : KEPALA SEKOLAH JABATAN ATAU TERPENUHINYA HARAPAN DAN ASPIRASI MASYARAKAT   Kepala Sekolah selama ini telah dibina oleh pemerintah menjadi birokrat-birokrat kecil yang lebih takut kehilangan jabatannyadaripada kegagalannya mencapai harapan dan memenuhi aspirasi masyarakat Artikel Selengkapnya Dapat Di Unduh Disini

Tanggal : 28 Mar 2013 :: Selengkapnya


Top